Jakarta – Keputusan Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin ke kisaran 3,75%–4,00% memicu dinamika baru dalam pasar aset kripto global.
Kebijakan pengetatan moneter ini menuntut para pelaku pasar untuk kembali mengevaluasi portofolio investasi mereka di tengah potensi penurunan likuiditas pasar.
Data dari CoinMarketCap per Senin (21/9/2026) menunjukkan Bitcoin (BTC) diperdagangkan di level US$ 81.340,99, mencatatkan kenaikan 1,10% dalam 24 jam terakhir.
Pada periode yang sama, Ethereum (ETH) juga menunjukkan penguatan sebesar 3,13% dengan posisi harga di US$ 2.661,34.
Meski suku bunga naik, pasar kripto tidak selalu menunjukkan respons yang seragam terhadap kebijakan tersebut.
Chief Marketing Officer INDODAX, Aloysia Dian, menekankan bahwa reaksi pasar sangat dipengaruhi oleh ekspektasi kebijakan di masa depan serta arus modal yang terjadi.
Aloysia menyarankan agar investor tetap menjaga disiplin tinggi dalam mengelola posisi aset mereka.
“Dalam kondisi tersebut, investor sebaiknya menjaga disiplin dalam menentukan posisi dan menyesuaikan eksposur dengan profil risiko masing-masing,” ujarnya, Jumat (18/9/2026).
Ia menambahkan bahwa strategi Dollar Cost Averaging (DCA) menjadi langkah mitigasi risiko yang tepat untuk meredam gejolak harga yang mungkin terjadi.
Dari sisi analisis makro, pelaku pasar juga diminta untuk mencermati sinyal dot plot dari pejabat The Fed yang mengindikasikan potensi satu kali kenaikan suku bunga tambahan pada sisa tahun 2026.
Analis Reku, Andri Fauzan, menyatakan bahwa indikator krusial yang perlu dipantau saat ini meliputi likuiditas pasar futures serta pergerakan imbal hasil obligasi dan nilai tukar dolar AS.
Andri menyarankan investor untuk menghindari penggunaan leverage tinggi guna meminimalisir risiko kerugian saat likuiditas pasar mengetat.
Ia merekomendasikan strategi akumulasi bertahap di area support serta melakukan aksi ambil untung secara parsial saat harga aset mengalami pemulihan atau rebound.
Dalam portofolio investasi, Bitcoin dinilai lebih layak dijadikan aset prioritas dibandingkan Ethereum di tengah ketidakpastian ekonomi saat ini.
“Bitcoin umumnya lebih tahan dibanding Ethereum karena status store-of-value dan arus institusional yang lebih stabil,” kata Andri.
Proyeksi hingga akhir tahun 2026 menunjukkan Bitcoin masih memiliki potensi pemulihan dengan target harga dasar di kisaran US$ 110.000.
Namun, skenario koreksi harga ke level US$ 70.000–US$ 80.000 tetap terbuka jika The Fed mengambil langkah yang lebih hawkish.
Di sisi lain, Ethereum diprediksi akan bergerak dalam rentang harga US$ 3.000 hingga US$ 3.800 sepanjang sisa tahun ini.
Para investor kini berada dalam posisi menunggu terkait arah kebijakan moneter lanjutan yang akan menentukan arah arus modal ke aset berisiko tinggi.










