Bali – Ajang lari internasional Maybank Marathon 2026 mencatatkan capaian signifikan dengan tingkat kepuasan peserta mencapai 98,5 persen.
Angka tersebut mencerminkan keberhasilan penyelenggara dalam memenuhi ekspektasi pelari, sekaligus menjadi tolok ukur kualitas ajang lari tahunan tersebut.
Berdasarkan data survei yang melibatkan 1.182 responden, sebanyak 97 persen peserta menyatakan minat untuk kembali berpartisipasi pada edisi mendatang.
Tingginya antusiasme tersebut diperkuat dengan temuan bahwa 99,3 persen responden bersedia merekomendasikan ajang ini kepada rekan maupun anggota keluarga mereka.
Project Director Maybank Marathon 2026, Bambang Irawan, menyatakan bahwa keberhasilan ini merupakan buah dari komitmen kolektif seluruh pihak yang terlibat.
“Ketika kita bekerja dengan niat baik, komitmen tinggi, semangat kolaborasi, dan passion, hasilnya akan berbeda,” ujar Bambang dalam acara Appreciation Night, Jumat (16/10/2026).
Ia menambahkan bahwa esensi dari ajang ini tidak sekadar terletak pada kompetisi lari semata, melainkan pada ikatan kebersamaan yang terjalin selama proses persiapan hingga hari H.
“Ini bukan hanya gelaran event yang kita hadirkan, tetapi juga rasa pertemanan yang tinggi yang sama-sama kita hadirkan pada hari itu,” kata Bambang.
Indikator positif lainnya terlihat dari penilaian peserta veteran, di mana 90 persen di antaranya menganggap penyelenggaraan tahun ini lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya.
Keberhasilan operasional tersebut selaras dengan peningkatan dampak ekonomi yang dirasakan oleh daerah penyelenggara, yakni Bali.
Hasil survei Katadata Insight Center menunjukkan bahwa Maybank Marathon 2026 menyumbangkan dampak ekonomi sebesar Rp303,5 miliar bagi perekonomian lokal.
Angka tersebut tercatat meningkat 34,6 persen dibandingkan capaian tahun 2025 yang berada di level Rp225,5 miliar.
Bambang menjelaskan bahwa nominal tersebut baru mencakup pengeluaran langsung dari para pelari, belum termasuk kontribusi ekonomi dari keluarga atau kerabat yang turut serta mendampingi.
Secara rinci, rata-rata pengeluaran pelari mencapai Rp16,3 juta untuk kebutuhan akomodasi, transportasi, serta konsumsi.
Sementara itu, rata-rata pengeluaran pelari internasional bahkan mencapai Rp40,1 juta per individu selama berada di Bali.
Dampak positif ini turut dirasakan langsung oleh pelaku usaha lokal di sekitar lokasi penyelenggaraan.
Laporan survei menunjukkan peningkatan pendapatan pelaku usaha rata-rata sebesar 35 persen dibandingkan hari normal, dengan lonjakan jumlah pelanggan mencapai 32 persen.
Potensi jangka panjang pun terlihat dari minat pelari internasional, di mana 98,7 persen di antaranya menyatakan keinginan untuk kembali ke Bali.
Bambang menegaskan bahwa seluruh capaian ini merupakan hasil kerja keras bersama yang diharapkan dapat terus dijaga keberlanjutannya pada tahun-tahun mendatang.
“Saya bangga sekali, saya senang sekali, dan saya berharap kesuksesan kita tahun ini berlanjut di tahun-tahun berikutnya,” pungkas Bambang.










