Jakarta – PT Visi Media Asia Tbk (VIVA) mengambil langkah strategis untuk memperbaiki struktur permodalan melalui skema konversi utang menjadi saham.
Manajemen perusahaan berencana melakukan penambahan modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (PMTHMETD) atau private placement dengan nilai mencapai Rp1,72 triliun.
Berdasarkan keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (12/10/2026), perusahaan akan menerbitkan sebanyak 43,09 miliar lembar saham baru.
Harga pelaksanaan saham tersebut dipatok pada level Rp40 per lembar.
Langkah ini diambil sebagai upaya mengurangi beban kewajiban perusahaan tanpa harus menguras kas operasional.
Meskipun beban utang berkurang, aksi korporasi ini membawa konsekuensi berupa dilusi terhadap porsi kepemilikan saham pemegang saham lama.
Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Kevin Yudha Pratama, menyatakan bahwa konversi utang ini merupakan langkah awal untuk menyehatkan posisi keuangan perusahaan.
“Konversi ini bisa menjadi awal perbaikan kondisi keuangan VIVA,” ungkap Kevin dikutip dari laporan analisis pasar, Senin (12/10/2026).
Namun, ia mengingatkan bahwa restrukturisasi neraca bukan menjadi jaminan perbaikan kinerja bisnis secara instan.
Kevin memprediksi potensi dilusi kepemilikan saham dapat mencapai 72% apabila seluruh saham baru berhasil diterbitkan.
Selain itu, penambahan jumlah saham yang masif berisiko menekan angka laba per saham atau earnings per share (EPS) jika tidak dibarengi dengan lonjakan laba bersih.
Secara terpisah, analis Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, memandang kebijakan ini sebagai upaya perusahaan untuk meningkatkan fleksibilitas keuangan.
“Utang yang berkurang dapat memangkas beban bunga, memperbaiki rasio utang terhadap ekuitas, dan membuat keuangan perusahaan lebih fleksibel,” ujar Nafan dikutip dari catatan riset sekuritas, Senin (12/10/2026).
Ia menambahkan, penurunan beban bunga akan meringankan tekanan arus kas perusahaan dalam jangka panjang.
Meskipun neraca keuangan membaik, tantangan operasional utama VIVA tetap menjadi perhatian para analis.
Hingga semester I 2026, pendapatan perusahaan tercatat masih mengalami penurunan dengan bisnis utama yang belum mencatatkan keuntungan.
Laba bersih pada periode tersebut dinilai masih ditopang oleh transaksi non-operasional, yakni penjualan saham.
Investor disarankan untuk membedakan antara perolehan laba dari operasional inti dengan laba dari transaksi keuangan lainnya.
Untuk mencapai pemulihan yang berkelanjutan, VIVA diwajibkan untuk meningkatkan daya saing di industri media.
Optimalisasi aset dan konten digital menjadi kunci di tengah persaingan ketat dengan platform digital lainnya.
Keberhasilan manajemen dalam mengelola arus kas operasional akan menjadi indikator utama apakah perusahaan mampu keluar dari jeratan kesulitan keuangan.
Jika restrukturisasi neraca tidak diikuti oleh kenaikan pendapatan dan perbaikan efisiensi biaya, manfaat bagi pemegang saham akan tetap terbatas.
Selanjutnya, pasar akan memantau bagaimana perusahaan mengalokasikan sumber daya setelah beban kewajiban berkurang secara signifikan.










