Jakarta – Konsumen di Indonesia dan pasar global kini harus bersiap menghadapi kenaikan harga perangkat telepon pintar yang signifikan sepanjang tahun 2026.
Tren lonjakan harga ini dipicu oleh kelangkaan komponen cip memori yang menyebabkan biaya produksi melonjak tajam.
Data dari IDC memproyeksikan harga jual rata-rata smartphone global akan naik sebesar 27,6% menjadi US$ 581 atau setara dengan Rp 10,3 juta.
Angka tersebut mencatat peningkatan drastis dari perkiraan awal yang dipatok pada angka US$ 523 pada Februari 2026.
Kondisi pasar saat ini didominasi oleh pengalihan kapasitas produksi DRAM dan NAND oleh produsen memori menuju high-bandwidth memory (HBM).
Produksi HBM kini diprioritaskan untuk pusat data kecerdasan buatan atau AI yang menawarkan margin keuntungan 3 hingga 5 kali lebih tinggi.
Akibatnya, sekitar 70% dari total produksi memori global terserap untuk kebutuhan pusat data AI.
Dampaknya terasa nyata pada biaya komponen, di mana harga DRAM global naik lebih dari 50% pada kuartal pertama.
Sementara itu, harga NAND Flash tercatat melonjak lebih dari 90% pada periode yang sama.
Secara tahunan, biaya memori bahkan dilaporkan mengalami kenaikan hingga hampir 300% pada kuartal kedua.
Tekanan biaya produksi ini memaksa para produsen smartphone untuk menempuh jalan sulit.
Beberapa merek terpaksa menahan spesifikasi perangkat, seperti tetap menggunakan RAM 12 GB pada model flagship alih-alih meningkatkannya.
Di segmen menengah dan bawah, penyesuaian konfigurasi dilakukan pada komponen layar, kamera, hingga modul audio demi menjaga harga jual.
Senior Analyst Counterpoint Research Shenghao Bai mengonfirmasi bahwa perubahan spesifikasi tersebut kini lazim ditemukan pada berbagai model smartphone terbaru.
Menghadapi realitas baru ini, para ahli menyarankan konsumen untuk mengubah pola pikir dalam memilih perangkat.
Fokus pembelian sebaiknya bergeser dari sekadar mengejar spesifikasi teknis tinggi ke aspek daya tahan dan umur pakai.
Konsumen diimbau untuk memperhatikan konsistensi performa jangka panjang, bukan hanya kecepatan saat pertama kali digunakan.
Kemampuan baterai untuk bertahan dalam penggunaan intensif selama dua hingga tiga tahun ke depan menjadi parameter krusial.
Selain itu, ketersediaan pembaruan perangkat lunak dan kemudahan akses suku cadang menjadi penentu utama masa pakai sebuah ponsel.
Senior Research Director for Worldwide Consumer Devices Nabila Popal menegaskan bahwa era ponsel dengan harga sangat murah telah berakhir.
Pernyataan ini ia sampaikan melalui siaran pers pada Sabtu (5/9/2026).
Popal menambahkan bahwa vendor harus mampu beradaptasi dengan struktur biaya baru jika ingin tetap bertahan di pasar.
Tekanan ekonomi ini paling memukul segmen entry-level dengan harga di bawah US$ 200 atau sekitar Rp 3,5 juta.
Data Counterpoint Research menunjukkan biaya komponen pada segmen tersebut naik antara 20% hingga 30% sejak awal tahun.
Di Indonesia, dampaknya terlihat dari penurunan pengiriman smartphone sebesar 9% pada kuartal pertama 2026.
Pasar Indonesia yang sangat bergantung pada segmen kelas menengah dan bawah kini mengalami kenaikan harga produk berkisar 7% hingga 45%.
Akibatnya, banyak konsumen di Tanah Air yang mulai beralih ke pasar ponsel bekas atau refurbished sebagai alternatif.
Senior Analyst Counterpoint Research Shilpi Jain mencatat bahwa segmen entry-level menjadi yang paling terpuruk akibat perilaku konsumen yang menunda pembelian.
Situasi ini diprediksi tidak akan segera pulih dalam waktu dekat karena normalisasi pasokan diproyeksikan baru terjadi pada 2027.
Bahkan, beberapa eksekutif industri memperingatkan bahwa ketimpangan pasokan memori berpotensi bertahan hingga melewati tahun 2030.










