Jakarta – Harga emas dunia saat ini berada dalam posisi krusial di tengah tarik-menarik antara sentimen kebijakan moneter Amerika Serikat dan ketegangan geopolitik global.

Data perdagangan spot menunjukkan harga emas sempat ditutup di level US$ 4.349 per ons troi pada Jumat (11/9/2026), mencatatkan kenaikan harian sebesar 0,72%.

Meski sempat menguat, komoditas logam mulia ini kini menghadapi tekanan berat akibat ekspektasi pasar terhadap pengetatan kebijakan moneter oleh The Federal Reserve.

Analis Mata Uang & Komoditas, Ibrahim Assuaibi, menyoroti meningkatnya probabilitas kenaikan suku bunga acuan AS sebesar 25 basis poin dalam pertemuan mendatang.

Pasar mencatat peluang kenaikan suku bunga kini melonjak ke angka 85%, jauh lebih tinggi dibandingkan proyeksi sebelumnya yang berada di kisaran 70%.

“Kenaikan suku bunga ini yang kemungkinan besar akan mempengaruhi pelemahan terhadap harga emas dunia,” ujar Ibrahim sebagaimana dikutip dari keterangan tertulisnya, Minggu (13/9/2026).

Kebijakan suku bunga yang lebih tinggi secara historis cenderung memperkuat posisi dolar AS di pasar valuta asing.

Penguatan dolar AS tersebut secara otomatis menekan daya tarik emas, mengingat logam mulia merupakan aset yang tidak memberikan imbal hasil atau bunga bagi pemegangnya.

Di sisi lain, posisi emas sebagai aset pelindung nilai atau safe haven masih tetap kuat berkat ketidakpastian kondisi geopolitik internasional.

Konflik Rusia-Ukraina yang masih berlangsung serta memanasnya situasi di Timur Tengah terus menjadi faktor pendukung utama harga emas.

Kondisi ketidakpastian yang tinggi ini mendorong sejumlah bank sentral dunia untuk terus mengakumulasi cadangan emas mereka guna memitigasi risiko ekonomi.

Salah satu pelaku pasar yang paling aktif dalam aksi beli ini adalah Bank Sentral Tiongkok.

“Pada saat terjadi perang yang begitu dahsyat di bulan September, Bank Sentral Tiongkok terus menambah cadangan emasnya,” ungkap Ibrahim.

Data menunjukkan bahwa Bank Sentral Tiongkok telah melakukan pembelian emas sebanyak 650.000 ons troi atau setara dengan 20,2 ton pada Agustus 2026.

Aksi borong yang dilakukan oleh bank sentral tersebut diyakini mampu menjadi bantalan atau penahan tekanan saat sentimen suku bunga AS mulai menekan pasar.

Memasuki pekan perdagangan baru per Senin (14/9/2026), harga emas diprediksi akan bergerak dalam rentang yang cukup lebar dan dinamis.

Secara teknikal, Ibrahim memetakan level support emas berada pada kisaran US$ 4.245 hingga US$ 4.102 per ons troi.

Sementara itu, level resistance atau batas atas harga diperkirakan berada di angka US$ 4.479 hingga US$ 4.650 per ons troi.

Secara keseluruhan, harga emas dunia diproyeksikan akan berfluktuasi dalam kisaran US$ 4.102 hingga US$ 4.650 per ons troi selama periode perdagangan pekan ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *