Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan jual yang cukup dalam pada perdagangan sesi pertama hari ini, Senin (12/10/2026).
Indeks ditutup melemah sebesar 1,94 persen dan bertengger di level 5.975,78.
Pergerakan bursa sempat menunjukkan optimisme di awal pembukaan dengan menyentuh level 6.109,32.
Namun, momentum penguatan tersebut tidak bertahan lama dan indeks justru terperosok ke zona merah hingga sempat menyentuh titik terendah di level 5.971,41.
Koreksi tajam yang terjadi pada sesi pertama ini dipicu oleh aksi jual masif yang menyasar saham-saham emiten besar milik sejumlah konglomerat ternama di Indonesia.
Saham-saham di bawah naungan Boy Thohir terpantau terkoreksi secara kolektif.
PT Adaro Andalan Indonesia Tbk. (AADI) mencatatkan penurunan sebesar 2,12 persen ke level Rp11.550.
PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk. (ADMR) melemah 1,32 persen ke posisi Rp1.500.
PT Alamtri Resources Indonesia Tbk. (ADRO) turun 1,55 persen ke Rp2.540, sementara PT ESSA Industries Indonesia Tbk. (ESSA) terkoreksi 2,56 persen ke Rp570.
Tekanan jual juga melanda emiten-emiten milik Prajogo Pangestu dengan persentase penurunan yang cukup signifikan.
PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk. (CUAN) memimpin pelemahan dengan turun 9,09 persen ke Rp700.
PT Petrosea Tbk. (PTRO) menyusul dengan koreksi 8,84 persen ke Rp4.330.
Saham PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) turun 8,52 persen ke Rp2.470.
PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA) melemah 7,16 persen ke Rp1.555, serta PT Chandra Daya Investasi Tbk. (CDIA) turun 6,31 persen ke Rp520.
PT Barito Pacific Tbk. (BRPT) turut tertekan dengan penurunan 4,63 persen ke Rp1.340.
Di sisi lain, saham-saham milik Happy Hapsoro juga mengalami nasib serupa dengan tren pelemahan yang cukup dalam.
PT Sanurhasta Mitra Tbk. (MINA) turun 7,14 persen, PT Rukun Raharja Tbk. (RAJA) melemah 6,02 persen, PT Bukit Uluwatu Villa Tbk. (BUVA) turun 4,51 persen, dan PT Raharja Energi Cepu Tbk. (RATU) terkoreksi 4,46 persen.
Berbeda dengan mayoritas saham lainnya, emiten milik Anthoni Salim menunjukkan performa campuran.
PT Indofood Sukses Makmur Tbk. (INDF) berhasil menguat 1,08 persen ke Rp7.025, diikuti PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. (ICBP) yang naik 0,72 persen ke Rp7.000.
Namun, saham PT PP London Sumatra Indonesia Tbk. (LSIP) justru turun 1,68 persen dan PT Salim Ivomas Pratama Tbk. (SIMP) melemah 0,89 persen.
BRI Danareksa dalam risetnya yang dirilis Senin (12/10/2026) menyebutkan bahwa pasar sedang berada dalam tekanan sentimen global yang kuat.
“Sentimen global pekan ini dibayangi eskalasi geopolitik Timur Tengah serta pertemuan IMF dan Bank Dunia pada 12—18 Oktober,” tulis para analis dalam riset tersebut.
Pasar juga mencermati rilis data inflasi dari Amerika Serikat dan China serta neraca perdagangan China yang berisiko menekan rupiah dan arus dana asing.
“Cenderung negatif untuk IHSG dalam jangka pendek, di tengah tekanan jual dan ketidakpastian geopolitik,” ungkap tim analis.
Ketidakpastian ini diperparah dengan rencana pidato pejabat The Fed pada 14—16 Oktober yang kini menjadi perhatian utama para investor di pasar modal.










