Jakarta – PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) tengah melakukan langkah strategis untuk memperkuat dominasi portofolio gas bumi nasional.
Perusahaan tersebut berencana mengakuisisi 10% hak partisipasi non-pengendali pada empat kontrak bagi hasil atau production sharing contract (PSC) di wilayah Cekungan Kutai, lepas pantai Kalimantan Timur.
Langkah korporasi ini diproyeksikan akan memberikan tambahan produksi gas jangka panjang bagi perusahaan.
Aset yang menjadi target akuisisi ini mencakup empat PSC, yaitu Muara Bakau, Ganal, West Ganal, dan East Ganal.
Seluruh blok tersebut saat ini dioperasikan oleh Searah, sebuah perusahaan patungan antara Eni dan Petronas.
Analis Maybank Sekuritas Indonesia, Hasan Barakwan, memberikan pandangan positif terhadap rencana ekspansi ini.
Ia menilai aset-aset tersebut memiliki nilai strategis karena merupakan aset gas berumur panjang dengan harga yang terkorelasi dengan pergerakan harga minyak.
“Kami memandang positif transaksi ini karena menambah portofolio MEDC dengan aset gas berumur panjang yang harganya terkait minyak,” ujar Hasan dalam risetnya tertanggal 13 Oktober 2026.
Portofolio yang diincar MEDC mencakup lapangan gas Jangkrik yang sudah berproduksi, proyek pengembangan Gendalo–Gandang, serta penemuan gas skala besar di Geliga.
Lapangan Jangkrik sendiri telah beroperasi sejak Mei 2017 dan menjadi tulang punggung produksi di wilayah tersebut.
Produksi gas dari Jangkrik diproses melalui fasilitas produksi terapung atau floating production unit (FPU), yang juga terintegrasi dengan gas dari lapangan Merakes.
Secara akumulatif, kedua lapangan tersebut mampu menghasilkan tingkat produksi puncak mencapai 750 juta kaki kubik per hari (MMscfd).
Selain aset yang sudah berproduksi, potensi pertumbuhan juga datang dari proyek Gendalo–Gandang yang telah mencapai keputusan investasi final pada Maret 2026.
Proyek ini ditargetkan mulai beroperasi pada 2028 dengan estimasi cadangan sebesar 2 triliun kaki kubik (Tcf).
Sementara itu, penemuan gas Geliga di wilayah PSC Ganal disebut-sebut sebagai sumber daya terbesar dalam paket akuisisi ini.
Temuan tersebut diperkirakan menyimpan cadangan gas sekitar 5 Tcf dan 300 juta barel kondensat di tempat.
Meskipun potensi cadangannya sangat besar, pengembangan lapangan Geliga masih memerlukan kajian teknis lebih mendalam serta persetujuan rencana pengembangan (PoD) dari pemerintah.
Terkait transaksi ini, MEDC dan pihak penjual telah menandatangani perjanjian mengikat, namun detail mengenai nilai akuisisi dan struktur pendanaan belum dibuka ke publik.
Maybank Sekuritas saat ini mempertahankan rekomendasi buy untuk saham MEDC dengan target harga Rp 2.500 per saham.
Namun, analis belum memasukkan kontribusi dari keempat PSC tersebut ke dalam proyeksi keuangan perusahaan sampai seluruh ketentuan transaksi dirilis secara resmi.
Hingga penutupan perdagangan bursa pada Rabu (14/10/2026), harga saham MEDC tercatat menguat 6,55% ke level Rp 1.545 per saham.
Keberhasilan transaksi ini nantinya masih akan bergantung pada pemenuhan persyaratan administratif serta persetujuan resmi dari Pemerintah Indonesia.









