Jakarta – Pemerintah bersama PT PLN (Persero) kini tengah mematangkan skema insentif komprehensif untuk mempercepat transisi penggunaan kompor listrik di masyarakat.

Langkah strategis ini diambil sebagai upaya menekan beban subsidi energi nasional yang terus meningkat akibat fluktuasi harga komoditas minyak dan gas dunia.

Program konversi ini dijadwalkan akan diperkuat melalui kolaborasi bertajuk ‘E-Stove’ yang rencananya resmi diluncurkan pada akhir Oktober 2026.

Executive Vice President Retail Sales and Customer Services PT PLN (Persero), Joni, menyatakan bahwa pihaknya telah merancang berbagai bentuk dukungan bagi masyarakat yang ingin beralih ke peralatan memasak berbasis listrik.

Strategi ini mengadopsi pola pembelajaran dari pemberian insentif yang sebelumnya diterapkan pada sektor ekosistem kendaraan listrik.

Program kolaborasi tersebut nantinya akan melibatkan kemitraan strategis dengan para produsen perangkat kompor listrik serta pengembang perumahan.

“Kami membuat program juga bagi developer perumahan yang istilahnya menyiapkan (daya listrik) yang ready untuk kompor listrik, maka biaya penyambungan itu kami kasih discount khusus untuk perumahan itu,” ujar Joni dalam diskusi ‘Electrification of Cooking to Power Indonesia’s Next Growth’, Jumat (9/10/2026), dikutip dari pernyataan resmi dalam diskusi tersebut.

Selain insentif penyambungan daya, PLN juga berencana menerapkan diskon tarif listrik pada jam-jam tertentu.

Kebijakan ini ditujukan untuk mengoptimalkan pemanfaatan listrik pada waktu beban rendah, sehingga menjadi daya tarik tersendiri bagi calon pengguna.

“Kami juga bisa memberikan discount di waktu tertentu untuk tarifnya. Jadi ini akan lebih menarik, oh jam-jam tertentu saat utilisasi listriknya kurang, kami bisa kasih discount,” kata Joni.

Dalam pelaksanaannya, PLN membagi target pengguna ke dalam tiga segmen masyarakat yang berbeda.

Kelompok masyarakat berpenghasilan rendah akan menjadi fokus utama penerima subsidi berupa bantuan perangkat kompor dan alat masak gratis dari pemerintah.

Sementara itu, kelompok masyarakat menengah hingga menengah ke atas diharapkan menjadi penggerak utama karena memiliki fleksibilitas lebih tinggi dalam menanggung biaya peralihan perangkat.

Bagi pelanggan yang terkendala dengan kapasitas listrik rumah tangga, PLN juga menyediakan insentif diskon khusus untuk biaya tambah daya.

“Masyarakat yang tadinya katakanlah (daya listrik rumahnya) 2.200 VA ke atas ini beralih menggunakan kompor induksi atau kompor listrik, kami berikan discount tambah daya,” ungkapnya.

Di sisi lain, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menegaskan bahwa pemerintah sedang memprioritaskan penyediaan kompor listrik dengan spesifikasi di bawah 900 kVA bagi rumah tangga.

Pemerintah sendiri telah mengalokasikan anggaran sebesar Rp815,56 miliar dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) tahun 2027 untuk mendukung suksesnya program konversi energi ini.

Langkah ini diharapkan mampu mengurangi ketergantungan impor LPG serta mendorong kemandirian energi nasional melalui optimalisasi cadangan listrik domestik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *