Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat diprediksi akan mengalami fluktuasi dengan potensi penguatan yang terbatas pada perdagangan Jumat (11/9/2026).

Kondisi pasar saat ini masih dipengaruhi oleh sikap investor yang menanti rilis data inflasi konsumen Amerika Serikat yang akan segera diumumkan.

Data inflasi tersebut menjadi instrumen krusial bagi pelaku pasar dalam melakukan kalkulasi ulang terhadap arah kebijakan moneter The Federal Reserve.

Pertemuan penting The Fed dijadwalkan akan berlangsung pada 15 hingga 16 September mendatang.

Ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga acuan Amerika Serikat saat ini sudah berada di kisaran 60 persen.

Berdasarkan data Bloomberg pada Kamis (10/9/2026), mata uang Garuda ditutup melemah 0,2 persen ke level Rp 17.547 per dolar AS.

Sementara itu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) milik Bank Indonesia mencatat posisi rupiah berada di angka Rp 17.536 per dolar AS, atau menguat 0,09 persen.

Research & Education Coordinator Valbury Asia Futures, Nanang Wahyudin, menyatakan bahwa pergerakan mata uang domestik sepanjang perdagangan Kamis dipengaruhi oleh dinamika tiga kelompok sentimen utama.

Sentimen tersebut meliputi pelemahan indeks dolar AS (DXY) di kisaran 98,8 serta tekanan kenaikan harga minyak Brent yang telah menembus angka US$100 per barel.

Selain itu, tingginya imbal hasil atau yield US Treasury tenor 10 tahun yang mencapai 4,84 persen turut menjadi perhatian pelaku pasar.

Di sisi lain, pasar obligasi domestik masih menunjukkan daya tahan yang cukup baik dengan catatan aliran modal asing masuk mencapai US$90,5 juta.

Nanang menjelaskan bahwa jika data inflasi Amerika Serikat nantinya dirilis lebih tinggi dari perkiraan, maka yield US Treasury dan dolar AS berpotensi menguat.

Situasi tersebut dipastikan akan memberikan tekanan tambahan terhadap nilai tukar rupiah.

Sebaliknya, apabila data indeks harga konsumen (CPI) Amerika Serikat menunjukkan angka yang lebih rendah dari ekspektasi, dolar AS berisiko melemah.

Kondisi ini akan membuka peluang bagi mata uang Garuda untuk mencatatkan penguatan.

Faktor risiko eksternal lain yang perlu diwaspadai adalah lonjakan harga minyak mentah Brent akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Sebagai negara net importer minyak, kenaikan harga energi global akan memperbesar kebutuhan dolar AS untuk keperluan impor nasional.

Dampak lanjutannya adalah peningkatan risiko inflasi global yang dapat menekan stabilitas ekonomi domestik.

Meskipun demikian, pasar obligasi pemerintah Indonesia dinilai masih menjadi penopang utama bagi rupiah melalui arus modal asing yang terus masuk.

Kebijakan stabilisasi yang dilakukan Bank Indonesia melalui intervensi di pasar spot, domestic non-deliverable forward (DNDF), dan NDF dianggap sebagai bantalan kuat.

Cadangan devisa sebesar US$146,5 miliar juga dipandang sebagai instrumen krusial dalam menahan tekanan dari faktor eksternal.

“Dengan demikian, ruang pelemahan rupiah akibat sentimen eksternal berpotensi lebih terbatas selama arus modal asing masih masuk dan Bank Indonesia tetap aktif melakukan stabilisasi,” ujar Nanang pada Kamis (10/9/2026).

Untuk perdagangan Jumat (11/9/2026), Nanang memproyeksikan nilai tukar rupiah akan bergerak dalam rentang Rp 17.450 hingga Rp 17.650 per dolar AS.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *