Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menunjukkan tren pemulihan signifikan pada perdagangan Kamis (3/9/2026).

Mata uang Garuda berhasil ditutup menguat sebesar 0,47% ke level Rp 17.679 per dolar AS.

Pencapaian ini memutus tren pelemahan yang sempat membayangi rupiah sejak awal pekan.

Penguatan tersebut juga tecermin pada data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI).

Posisi Jisdor mencatat rupiah berada di angka Rp 17.689 per dolar AS, atau menguat 0,46% secara harian.

Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menyatakan bahwa arah kebijakan Bank Indonesia menjadi faktor domestik yang krusial.

Menurut Ibrahim, BI kini berfokus pada prinsip kebijakan yang bersifat impactful, inklusif, dan integratif.

Di bawah kepemimpinan Destry Damayanti, BI disebut berkomitmen memperkuat koordinasi dengan kementerian dan lembaga terkait.

Langkah ini diambil guna menciptakan iklim sektor riil yang lebih kondusif di tengah tantangan pengendalian inflasi domestik.

BI juga berupaya merumuskan kebijakan yang responsif terhadap ketidakpastian global, termasuk tren suku bunga acuan negara maju yang masih bertahan tinggi atau higher for longer.

Namun, Ibrahim mengingatkan bahwa potensi penguatan rupiah ke depan masih menghadapi kendala.

Pasar masih menyimpan kekhawatiran terhadap potensi kenaikan inflasi umum dan inflasi inti dalam beberapa bulan mendatang.

“Hal ini dipicu oleh tingginya biaya input dan logistik, kembali naiknya harga energi, serta potensi gangguan pasokan pangan akibat fenomena El Nino,” ujar Ibrahim, Kamis (3/9/2026).

Dari sisi eksternal, tekanan terhadap mata uang dolar AS memberikan napas segar bagi pergerakan rupiah.

Sentimen negatif terhadap dolar AS muncul setelah rilis data pasar tenaga kerja AS yang berada di bawah ekspektasi pasar.

Data ADP Employment Change menunjukkan penambahan pekerja sektor swasta AS hanya mencapai 38.000 pada Agustus.

Angka tersebut jauh di bawah perkiraan pasar yang mematok angka 47.000 pekerja.

Di sisi lain, pasar justru tengah mencermati spekulasi kenaikan suku bunga oleh The Federal Reserve (The Fed) pada September ini.

Spekulasi tersebut dipicu oleh sikap tegas Ketua The Fed, Kevin Warsh, dalam menanggapi isu inflasi saat Simposium Jackson Hole.

“Menurut perangkat CME FedWatch, probabilitas kenaikan suku bunga pada pertemuan tanggal 15-16 September saat ini berada di kisaran 64%, naik dari 36% pada pekan sebelumnya,” tutur Ibrahim.

Menatap perdagangan Jumat (4/9/2026), pelaku pasar akan memantau ketat sejumlah data ekonomi AS.

Fokus utama tertuju pada data klaim pengangguran mingguan serta indeks ISM Services PMI untuk periode Agustus.

Selain itu, laporan ketenagakerjaan Nonfarm Payrolls (NFP) yang akan dirilis akhir pekan ini turut menjadi sentimen kunci.

Berdasarkan proyeksi teknikal, Ibrahim memperkirakan rupiah akan bergerak dalam rentang Rp 17.630 hingga Rp 17.680 per dolar AS pada perdagangan esok hari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *