Jakarta – Harga emas di pasar spot mencatatkan tren pelemahan pada awal pekan ini, Senin (7/9/2026).

Data Trading Economics menunjukkan harga komoditas logam mulia tersebut berada di kisaran US$ 4.402 per ons troi.

Angka ini merepresentasikan penurunan sebesar 0,69% dalam kurun waktu satu hari perdagangan terakhir.

Secara akumulatif dalam sepekan terakhir, harga emas telah terkoreksi sebesar 0,77%.

Analis Dupoin Futures, Geraldo Kofit, menilai emas pada time frame daily berpotensi melanjutkan tren pelemahan.

Harga diprediksi akan bergerak menuju area support di kisaran US$ 4.365 hingga US$ 4.331 per ons troi.

Proyeksi tersebut didasarkan pada kegagalan harga menembus level resistance di angka US$ 4.440.

“Proyeksi tersebut muncul setelah harga gagal menembus resistance di level US$ 4.440 dan membentuk pola ABC Correction yang mengindikasikan masih adanya ruang bagi harga untuk mengalami koreksi,” ujar Geraldo dalam riset yang diterima, Senin (7/9/2026).

Pola ABC Correction yang terbentuk mempertegas fase koreksi yang sedang dialami oleh aset tersebut.

Jika tekanan jual tidak mereda, pengujian terhadap level support US$ 4.365 menjadi target jangka pendek.

Apabila level tersebut gagal menahan laju penurunan, harga berpeluang terperosok lebih dalam menuju US$ 4.331.

Sebaliknya, stabilitas harga di sekitar zona support dapat memicu potensi rebound atau pembalikan arah.

Namun, selama level resistance US$ 4.440 belum tertembus, skenario koreksi tetap mendominasi pasar.

Faktor fundamental saat ini turut memberikan sentimen yang saling bertolak belakang bagi pergerakan emas.

Salah satu perhatian utama pelaku pasar adalah kenaikan harga minyak mentah dunia.

Kenaikan tersebut dipicu oleh eskalasi ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran di kawasan Strait of Hormuz.

“Salah satu faktor yang menjadi perhatian adalah kenaikan harga minyak akibat eskalasi ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran serta gangguan di kawasan Strait of Hormuz,” kata Geraldo dikutip dari riset Dupoin Futures, Senin (7/9/2026).

Lonjakan harga energi berpotensi meningkatkan tekanan inflasi global yang berdampak pada biaya produksi.

Kondisi ini krusial karena inflasi akan menjadi penentu arah kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat, The Fed.

Ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed masih menjadi hambatan utama bagi penguatan harga emas.

Suku bunga yang tinggi cenderung memperkuat posisi dolar AS serta imbal hasil atau yield Treasury Amerika Serikat.

Kenaikan yield meningkatkan biaya peluang bagi investor dalam memegang emas yang merupakan aset tanpa imbal hasil.

Pasar saat ini tengah menanti rilis data Consumer Price Index (CPI) Amerika Serikat sebagai indikator inflasi terbaru.

Data CPI ini akan menjadi acuan penting bagi The Fed dalam menentukan langkah kebijakan moneter pada pertemuan September.

Jika inflasi tercatat lebih tinggi dari perkiraan, pasar kemungkinan akan merespons dengan memperketat ekspektasi kebijakan moneter.

Situasi tersebut diprediksi akan semakin menekan harga emas melalui penguatan dolar AS.

Di sisi lain, risiko geopolitik yang meningkat akibat konflik AS-Iran tetap menjadi variabel yang memicu volatilitas pasar.

Biasanya, ketegangan geopolitik meningkatkan permintaan terhadap emas sebagai aset pelindung nilai atau safe haven.

Namun, kompleksitas dampak harga minyak terhadap inflasi membuat pengaruh sentimen geopolitik menjadi lebih sulit diprediksi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *