Jakarta – Dana Moneter Internasional (IMF) mengeluarkan peringatan keras mengenai potensi ketidakstabilan ekonomi global yang dipicu oleh investasi masif pada sektor kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Lembaga keuangan internasional tersebut memproyeksikan bahwa pasar saham Amerika Serikat menghadapi risiko koreksi tajam hingga 20 persen jika lonjakan investasi AI gagal memberikan peningkatan produktivitas yang signifikan.
Skenario buruk ini diperkirakan akan memangkas pertumbuhan ekonomi global pada 2028 sebesar 1,1 poin persentase dari proyeksi dasar.
Dampak negatif tersebut diprediksi akan terasa lebih berat di kawasan Asia, dengan potensi penurunan pertumbuhan ekonomi mencapai 1,7 poin persentase.
Saat ini, investasi AI memang menjadi salah satu mesin utama yang menopang permintaan ekonomi dunia melalui belanja besar-besaran di sektor infrastruktur komputasi dan pusat data.
Namun, IMF menekankan bahwa besarnya aliran modal ke sektor teknologi tersebut membawa risiko sistemik apabila keuntungan produktivitas yang dijanjikan tidak terwujud di masa depan.
Kepala Ekonom IMF, Silvana Tenreyro, menyatakan bahwa daya tahan ekonomi global saat ini mulai menghadapi titik jenuh di tengah berbagai tekanan geopolitik dan ketidakpastian pasar.
“Ekonomi global telah menunjukkan ketahanan, namun ketahanan tersebut kini mencapai batasnya,” ujar Tenreyro, seperti dikutip dari Laporan IMF, Selasa (13/10).
Menurut analisis IMF, investasi AI saat ini berperan sebagai guncangan permintaan besar dalam jangka pendek yang mendorong aktivitas ekonomi.
Akan tetapi, apabila hasil investasi tidak sebanding dengan biaya operasional yang dikeluarkan, valuasi perusahaan teknologi berisiko mengalami koreksi harga yang drastis.
Kondisi tersebut dikhawatirkan dapat merambat ke pasar keuangan internasional, menekan kekayaan investor, serta mengurangi tingkat belanja dan investasi global secara luas.
Keterhubungan pasar keuangan yang semakin erat membuat koreksi tajam di pasar saham Amerika Serikat berpotensi memicu penyesuaian portofolio investor secara masif di berbagai negara.
Selain risiko dari sektor teknologi, IMF juga menyoroti ancaman dari konflik geopolitik yang dapat mengganggu pasokan energi global.
Gangguan pada pasokan energi, terutama di kawasan Teluk, diprediksi dapat mendorong inflasi global melampaui angka 5 persen pada 2027 dengan probabilitas mencapai 35 persen.
Ruang bagi pemerintah untuk merespons guncangan ekonomi dinilai semakin sempit akibat meningkatnya beban utang publik di berbagai negara.
Utang publik di negara-negara maju diproyeksikan akan membengkak hingga 115 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) pada 2031, naik signifikan dari posisi 108 persen pada 2025.
Sementara itu, beban utang di negara berkembang diperkirakan akan naik dari 74 persen menjadi 84 persen dari PDB dalam rentang waktu yang sama.
Tenreyro menambahkan bahwa arah pertumbuhan global saat ini tidak merata dan sangat bergantung pada tingkat keterpaparan masing-masing negara.
“Ekonomi global tidak sekadar melambat atau berakselerasi; sebaliknya, pertumbuhan sedang dialokasikan ulang antarnegara berdasarkan tingkat keterpaparan mereka terhadap guncangan pasokan akibat perang dan kuatnya permintaan yang didorong oleh akal imitasi,” papar Tenreyro dikutip dari Laporan IMF, Selasa (13/10).
Ke depan, stabilitas ekonomi dunia akan sangat bergantung pada kemampuan investasi AI dalam memberikan manfaat nyata serta efektivitas kebijakan bank sentral dalam mengelola tekanan fiskal dan pasar.










